Surat untuk Purnama

Dear purnama. Kamu malam hari ini bulat. Penuh. Sepenuh isi perasaanku. Yang rasanya hampir tumpah. Layaknya air dalam gelas.

Dear purnama. Kalau saja kamu tahu. Kenapa malam ini aku menyanjungmu. Dengan keindahan cahayamu.

Dear purnama. Andaikan kamu bisa merasakan. Gelisah hati yang sudah lama tertanam. Seperti penantianmu sebelum penuh.

Dear purnama. Sinaran yang kamu miliki. Rasanya ingin kugapai. Biar akupun bisa menjadi hangat.

Dear purnama. Sudah cukup lama aku menunggu. Jangan biarkan penantian ini percuma.

Dear purnama. Kalau saja aku bisa. Untuk meraihmu. Dan menyimpanmu di pojok hati.

Dear purnama. Betapa penuh lingkarmu. Ingin rasanya menghilang di baliknya.

Dear purnama. Tolong sampaikan pesanku. Pada dirinya di sana. Katakan aku menunggunya. Sampai kamu tenggelam.

Dear purnama. Hanya itu pesanku. Ditambah sedikit cahaya penuhmu. Sempurna sudah.

Note ini dibuat pada tanggal 19 Maret 2011. Di kala Bulan bersinar 14% lebih terang dan lebih besar dari biasanya. Trimakasih Luna. Kamu menghangatkan Bumi saat Matahari sedang absen di malam hari.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

Jenny Jusuf

In Between...

aMrazing

How I Become Immortal

Carousel Of Memories

A Blog By Rahne Putri

Nauval Yazid & His Words.

Obviously written by the owner of the words, Nauval Yazid. Ask me how to pronounce the name.

Lembar Hidup

..you are reading what matters to me.

NoComplaintWeek

Project "NoComplaintWeek": 7 hari tidak mengeluh. Di sini tempat berbagi semua yang berpartisipasi :)

%d bloggers like this: