Inside my head

Seandainya saja aku tak perlu menuliskan ini…

Tapi aku ingin. Ah~ pusing..

Begitu banyak yang ada di dalam kepalaku, entah itu kata, kalimat, peristiwa, kenangan dan masih banyak yang lainnya. bahkan tak bisa kudefinisikan bentuk apalagi yang ada di dalam situ.

oke, kalo begitu biar kucoba untuk membuat daftarnya. mungkin akan sedikit membantu.

1. memoriku selama (hampir) 4 tahun ke belakang.

duh. kenapa juga aku harus menengok ke belakang dan kenapa juga harus ke bagian tertentu begini? bagian tertentu. bagian pada tahun 2008 akhir. persis 4 tahun yang lalu kan? sebentar perasaan menyesal muncul, sebentar berganti perasaan bersyukur. dasar labil memang. cuma Tuhan yang bisa mengangkat isi memoriku selama 3,5 tahun itu. iya, sisa setengah tahunnya tak kuhitung karena perjalanannya berakhir di bulan ke-6. haruskah kubenci sisi diriku yang ini?

2. perubahan akhir-akhir ini

aku mulai menepi dari teman-teman kostku. sindrom ini semakin menggerogotiku. sepertinya memang kesalahan ada padaku. dan tak diragukan lagi, memang aku yang menyingkir dari hadapan mereka. mungkin ini yang dinamakan sindrom “takut ditinggal”. memang ini ketakutan yang tak berarti, tapi arah pembicaraan mereka lah yang sebenarnya kuhindari. aku memang sungguh susah dewasa untuk yang satu ini.

pernikahan.

sindrom ini sedang melekat pada lidah mereka. dan aku hanya bisa menaruh senyum yang kurasa paling manis di wajahku. sudahlah. tak akan habis semalam panjang untuk topik satu kata itu. katakan saja aku di sini yang keras kepala, bahkan lebih keras dari batok kelapa tua.

3. masih menyangkut nomor 2

sudah terlalu sering aku menulis kata “mungkin”. dan aku sudah mulai muak dengan kata itu. tapi semakin aku katakan aku muak, semakin sering ia kugunakan dalam tulisanku. jadi…mungkin pokok masalah ada padaku. khusus untuk topik nomor 2 – kusebut saja begitu biar lebih mudah – mungkin (lagi-lagi mungkin) aku yang kurang keras kepala dalam meminta lewat doa kepadaNya. mungkin (tuh kan) aku yang terlalu santai dalam melancarkan usaha. si malas tak pernah luruh dari kebiasaanku. aku si pemalas. rasanya pantas. dan mungkin memang belum ada jawaban dariNya, untuk saat sekarang. jadi aku harus menunggu beberapa waktu lagi, dan entah sampai kapan lagi penungguanku. mungkin dan mungkin ketika aku mulai menyerah karena lelah. itu pun hanya mungkin.

sebaiknya aku teruskan saja kebiasaan menyingkirku ini..

egois memang. karena aku hanya ingin menyelamatkan diriku sendiri. dari dosa yang tentunya Tuhan tak pernah suka.

haruskah kusumbat telingaku juga..

ah~

http://lifeofamaybeborderline.files.wordpress.com/2010/09/alone1229662351.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

Jenny Jusuf

In Between...

aMrazing

How I Become Immortal

Carousel Of Memories

A Blog By Rahne Putri

Nauval Yazid & His Words.

Obviously written by the owner of the words, Nauval Yazid. Ask me how to pronounce the name.

Lembar Hidup

..you are reading what matters to me.

NoComplaintWeek

Project "NoComplaintWeek": 7 hari tidak mengeluh. Di sini tempat berbagi semua yang berpartisipasi :)

%d bloggers like this: