Sudah bulan kelima, Sayang

Kepada pria di ujung sana.

Sudah bulan kelima. Semenjak perkenalan pertama olehmu. Dan dibalas olehku. Semenjak telepon pertama olehmu. Lalu diteruskan olehku. Semenjak percakapan pertama olehmu. Lalu dilanjutkan olehku. Semenjak kau menaruh perasaanmu. Lalu tak terbalaskan olehku.

Sudah bulan kelima. Semenjak keadaan yang akhirnya membuat kau harus terpisah dari keseharianmu. Keadaan yang membuat kau semakin membutuhkan kehadiran seorang aku. Keadaan yang membuat aku semakin sering menyebut namamu dalam doa-doaku. Keadaan yang membuat sepasang manusia harus bertahan demi satu sama lain.

Sudah bulan kelima. Semenjak kali pertama kau dan aku bertemu dengan cara yang ironis. Semenjak pertemuan kedua, ketiga dan keempat yang tak kalah ironis. Semenjak permohonan ijinmu untuk menjadi seorang pria kedua dalam hidupku (setelah Papa tentunya). Semenjak permohonan ijinmu untuk menggenggam tangan serta mencium/memelukku. Semenjak aku memberikan ijin untukmu. Ijin untuk kau merawat hati dan perasaanku. Ijin untuk tidak mengecewakanku sampai kapanpun.

Sudah bulan kelima, Sayang. Semenjak kali terakhir aku memandang mata indahmu. Semenjak kali terakhir kau menatap aku dengan penuh perasaan. Semenjak kali terakhir aku enggan meninggalkanmu untuk yang kesekian kalinya. Semenjak kau enggan melepaskan genggaman tanganmu di tanganku. Semenjak ucapan berpisah yang terakhir.

Sudah bulan kelima. Aku menahan rindu terhadapmu. Dan kau pun berulang kali mengucap rindu padaku. Setiap kala itu, aku semakin sadar, kalau satu kata rindu bisa mematahkan hati. Aku semakin menyadari bahwa sebongkah rindu yang berbalas bisa menorehkan kesedihan yang mendalam.

Sudah bulan kelima, Sayang. Maafkan aku. Tapi aku harus jujur kepada pria yang akan menjadi teman sepanjang hidupku nanti.

Aku sudah mulai lelah. Lelah dalam penantian yang rasanya tak berujung ini. Sedari awal aku dilahirkan, Tuhan sepertinya mengutukku dengan yang namanya menunggu. Aku sangat tidak suka dengan pekerjaan menunggu. Menurutku, itu adalah pekerjaan yang paling melelahkan di dunia. Semakin aku tidak suka, semakin aku didekatkan dengan pekerjaan yang satu ini.

Sudah bulan kelima. Tapi toh aku tak bisa melakukan apapun selain menunggu. Kau juga sedang melakukannya. Jadi tak ada jalan lain selain teruskan dan panjangkan sabar. Seperti yang makhluk di Bumi ini tahu, semua akan indah pada waktunya.

Kau selalu bilang : Sabar ya Sayang. Biasanya aku hanya menjawab : Iya. Namun kali ini aku akan menjawab : Aku coba ya Sayang.

Yang (mencoba) selalu sabar
Wanitamu.

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

Jenny Jusuf

In Between...

aMrazing

How I Become Immortal

Carousel Of Memories

A Blog By Rahne Putri

Nauval Yazid & His Words.

Obviously written by the owner of the words, Nauval Yazid. Ask me how to pronounce the name.

Lembar Hidup

..you are reading what matters to me.

NoComplaintWeek

Project "NoComplaintWeek": 7 hari tidak mengeluh. Di sini tempat berbagi semua yang berpartisipasi :)

%d bloggers like this: