Menggenggam ruang hampa

Sayang,
Padamu aku sudah kehabisan kata.
Padamu aku akan lebih sering bungkam.
Padamu aku lebih memilih tak bersuara.

Sayang,
Darimu aku belajar banyak hal tentang hidup.
Darimu aku belajar berdiri tegak.
Darimu aku belajar mencinta yang sebenarnya.

Sayang,
Aku tahu kau selalu memikirkanku.
Aku juga tahu kau selalu mendoakanku.
Aku juga tahu kau selalu merindukanku.

Sayang,
Pintaku tetaplah semangat melalui hari ke hari.
Pintaku hiduplah semaksimal mungkin.
Pintaku berbahagialah selalu.

Sayang,
Yakin saja waktunya akan tiba.
Yakin saja pada keyakinan kita.
Yakin saja pada semua doa kita.

Sayangku,
Bertahanlah, karena itu satu-satunya cara.
Jika satu dari dua tangan yang saling menggenggam, melepaskan genggaman, lalu apa lagi gunanya menggenggam ruang hampa?

Iya, surat ini untuk kamu, sayang.

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Laughing Phoenix

Life through broken 3D glasses. Mostly harmless.

Jenny Jusuf

In Between...

aMrazing

How I Become Immortal

Carousel Of Memories

A Blog By Rahne Putri

Nauval Yazid & His Words.

Obviously written by the owner of the words, Nauval Yazid. Ask me how to pronounce the name.

Lembar Hidup

..you are reading what matters to me.

NoComplaintWeek

Project "NoComplaintWeek": 7 hari tidak mengeluh. Di sini tempat berbagi semua yang berpartisipasi :)

%d bloggers like this: